Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Dasar-dasar Menulis (UAS)

Gambar
Aang Arwani Aminuloh 108013000070 PBSI/IV B Makyun Subuki, M.Hum. Buatlah satu paragraf narasi ekspositoris dan satu paragraf narasi sugestif. Jelaskan perbedaan keduanya berdasarkan contoh yang dibuat. Paragraf Narasi Ekspositoris Cara Menulis Cerpen yang Baik Maria pada saat main kerumahku, menjelaskan bagaimana caranya menulis cerpen yang baik. Dia mengungkapkan bahwa menulis cerpen yang paling susah adalah menentukan kalimat pertama. Tetapi, masih menurut dia, sebenarnya tidak sulit juga. Awalnya, buatlah corat-coret tentang apa saja. Lingkungan kampus, misalnya. Lalu bayangkanlah mengenai kehidupan tertentu dengan latar belakang itu. Pilihlah gaya penceritaan yang dikehendaki, tentukanlah tokohnya, kemudian bentuklah karakter tokoh yang dipilih itu secara tegas, dan buatlah alur yang hidup serta penyebab konflik yang rasional. Kemudian, puncak konflik jangan dibuat seolah masalah itu cepat dengan mudah diakhiri. Buatlah jebakan-jebakan tertentu sehingga pembaca merasa betul

Urgensitas Keilmuan

Dalam Islam, mencari ilmu adalah suatu keniscayaan, atau merupakan kewajiban bagi setiap manusia muslim tanpa memandang tua atau muda, lelaki atau perempuan. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dengan ilmu, manusia dapat membangun peradabannya, dapat mengaktualisasikan dirinya, bisa meminimalisasi disharmonisasi dengan dunia luar, diakui eksistensinya oleh orang lain, mampu berkomunikasi dengan berbagai zaman, pun dengan ilmu manusia menjadi dapat dibedakan dengan makhluk lainnya. Urgensitas keilmuan seseorang tidak cukup sampai di sana, masih banyak hal yang diperoleh orang yang berilmu sebagaimana janji Allah yang dinyatakan dalam suatu hadis berikut ini. Yang pada intinya orang yang berilmu akan memperoleh derajat yang tinggi, Dia akan menuntunnya menuju jalan ke surga, dimohonkan ampun oleh para malaikat, sekalian penduduk langit dan bumi, serta ia adalah manusia laksana seterang bulan purnama atas bintang-bintang, dan pewaris para Nabi. Jadi, bagi yang berilmu ada keuntungan gan

Peristiwa Subuh Itu

Hari itu, Selasa (1/12) adalah hari mengerikan bagiku. Betapa tidak? Seluruh keluargaku hilang. Aku mengutuk mereka. Biadab mereka. Mengingatnya, berarti mengoyak perasaanku. Entah kenapa bila aku ingat hari itu, hatiku gerang, panas, juga pilu sekaligus menyesal. Subuh itu, pintu rumah kami digedor-gedor, dan aku langsung terperanjat bangun. Ketika membuka pintu, tiba-tiba kepalan tangan itu menonjok perutku sampai aku tersungkur. Dan aku mencoba bangkit, kemudian tendangan keras menghantam dari belakangku, dan aku merasa benda tumpul baru saja menimpa punggungku. Aku merasa sejenak berada di alam yang tak kumengerti. Kala bangun, aku dapati kamar Ibu dan Ayah kosong. Aku tak tahu orangtuaku dibawa ke mana oleh mereka. Dan saat kamar adikku dibuka, aku melihat tak ada siapa-siapa. Hatiku cemas. Ke mana mereka membawa keluargaku? Diapakan mereka? Apakah mereka dibunuh? Bagaimana nasib adikku? Mereka bertopeng. Jumlahnya lebih dari lima orang. Kami tak kenal siapa mereka dan yang men

Cara Menulis Cerpen yang Baik

Meri pada saat main kerumahku, menjelaskan bagaimana caranya menulis cerpen yang baik. Dia mengungkapkan bahwa menulis cerpen yang paling susah adalah menentukan kalimat pertama. Tapi, masih menurut dia, sebenarnya tidak sulit juga. Awalnya, buatlah dulu corat-coret tentang apa saja. Tentang lingkungan yang ada di sekitar kita, atau tentang keadaan kampung yang rimbun dengan pepohonan hijau dan kesejukan di pagi hari. Dan teruslah menulis tentang itu, karena biasanya bila sudah nyaman dengannya, akan mengalir kata-kata itu bak air di sungai dari pikiran dan hati kita. Lalu bayangkanlah tentang suatu kehidupan tertentu dengan latar belakang daerah tertentu. Tentukanlah tokohnya, dan pilihlah gaya penceritaan yang dikehendaki. Apakah akan menggunakan sudut pandang akuan, diaan, atau pengarang yang serba tahu. Terserah mana yang cocok. Lebih lanjut Meri mengatakan bahwa, berimajinasilah ketika menulis tersebut seolah kita sedang berada pada situasi itu, dan rasailah perasaan masing-masi

Saya Melihat Keseriusan Mahasiswa di Dunia Kampus Berasal dari Kalangan Masyarakat Bawah

Ketidakberdayaan dalam bidang ekonomi membuat sebagian orang ingin berkembang dan maju, meraih kursi kesuksesan serta dapat menaikan strata keluarga di lingkungan masyarakat yang didominasi oleh "masyarakat mapan". Motivasi-motivasi itu kemudian mewujud ke dalam semangat untuk dapat "tampil sempurna" guna meraih prestasi tinggi. Mereka menjadi serius dalam menjalankan aktivitas kuliah, tidak main-main, dan cenderung ingin lebih maju dari seangkatannya. Hal wajar, ambisi untuk sukses adalah spirit yang positif guna mengoptimalkan potensi diri dan aktualisasi total. Tak sedikit dari mereka tertarik kepada "beasiswa", sehingga cara belajarnya pun tidak lagi menggunakan bantuan orang lain, mereka lobih condong mandiri. Keuletan dan kegiatan yang konstruktif mereka lakukan. Dan realitas seperti ini tidak sulit untuk ditemukannya, lihatlah rata-rata mereka yang berperestasi, yang menonjol di kelasnya atau bintang kelas, berasal dari kalangan yang ekonomi di ba

Multiagama dan Masalah Toleransi

Kita akui bahwa multietnik, budaya, utamanya agama di Indonesia itu adalah hal yang mustahil untuk diingkari. Historitas Indonesia, membuktikan bahwa eksistensi negara ini disebabkan, salah satunya, keberagaman. Oleh karena itu, masalah tertentu yang berbau diskriminasi dan dikotomi kebijakan, akan senantiasa menjadi tajuk utama di negara majemuk. Lalu, apa sebaiknya sikap dari masing-masing? Awal kemerdekaan Indonesia, banyak para pemikir dan cendikiawan yang mengkultuskan perihal "toleransi", dan kedudukannya menjadi sangat penting waktu itu untuk mempertahankan keberadaan Indonesia agar tetap "utuh". Yang kemudian, toleransi ini diinterperetasi oleh masyarakat, berbeda-beda. Setidaknya, tiga. Tafsiran pertama adalah masyarakat yang mengartikan toleransi secara total, yang kedua toleransi semitotal, dan ketiga adalah masyarakat yang memahami toleransi secara terbatas, sederhana. Masyarakat pertama rata-ratanya adalah mereka yang memiliki pemikiran rasionalisti

Kemandulan Berpikir pada Mahasiswa

Ada sebagian masyarakat luas yang menganggap bahwa mahasiswa adalah "manusia yang lengkap", mampu menjawab tantangan baru, dan agent of change ke arah yang lebih positif. Tak berlebihan asumsi tersebut, tapi konteksnya kini, yang saya tahu, justru mahasiswa kebanyakan berpikir sempit dan mandul. Kenyataan ini didukung oleh realitas bahwa mahasiswa kebanyakan bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas mereka, selalu menganggap enteng, dan sering mengatakan "cukup" untuk materi makalah yang sebenarnya akan sangat baik bila diperluas pembahasannya. Tak sedikit dari mereka yang kuliah alasannya karena disuruh orangtua, bermain-main belaka, daripada nganggur, dan "terpaksa". Keterpaksaan ini muncul rata-ratanya dari mahasiswa kalangan menengah atas. Istilahnya, ada tuntutan moral yang tak tertulis bagi mereka: orangtua terkemuka dipandangan masyarakat, sedang anak-anaknya tidak kuliah, sungguh memalukan. Terlebih bila orangtuanya itu dipandang sebagian masyarakat

Insiden di Telepon

"Kak, bantu aku" "Ada apa memang?" "Mamah," "Ya, kenapa dengan Mamah." "Denganku tak bermasalah, ini dengan temanku, aku gak enak sama dia Kak, karena Mamah kasar bicaranya, hingga tak tahan aku melihat temanku menangis, gara-gara Mamah bilang, 'Jangan deketin dia lagi,' Padahal, selama ini yang menolongku dia Kak. Pas nelpon itu, temenku ada di sampingku, ya otomatis dia denger, gimana donk, Kak. Tolongin, sedangkan aku suka nginep di rumahnya, dan kalo ada apa-apa aku juga suka minta tolong ma dia dan dia pasti siap tuk penuhi segalanya." "Ya, trus." "Pada suatu ketika, saat aku gak punya uang sama sekali, dia mau bantu aku. Bahkan saat SPPku harus dilunasi cepat, dia rela tak bayar SPPnya secara penuh demi aku, Kak. Dan pada saat aku sakit pun, dia yang pertama khawatir padaku, sampai aku harus beberapa hari dirawat di rumahnya, makan, dan aku diperlakukanya sebagai saudara, sebagai anak dari mereka, pada

Apresiasi, Introspeksi, dan Ekspresi Negatif

"Anda, sini, benar ini?" "Benar, Pak!" "Anda luar biasa." Dialog kecil itu telah membuat saya termotivasi untuk terus mengembangkan bakat yang ada, tak peduli teman-teman saya tak menerima. Ini adalah tantangan sekaligus cobaan. Adalah saya, yang menderita semacam "penyakit" akut, dan sampai saat ini belum ada obat yang pasti. Tapi saya memercayainya sebagai anugerah, saya yakin bahwa itu bukanlah suatu kekurangan yang harus saya kubur. Pak, terima kasih atas apresiasinya, dan saya harap semua akan membawa kebaikan yang membaikkan. Ini terjadi, tepat pada tanggal 27 Mei 2010 yang mengagumkan! Saya tak kan melupakannya. Suatu prestasi dan sekaligus kemenangan. Saya akui bahwa tanggal itu saya bisu, hanya dua kali saya bicara, walau kesempatan telah diberikan, tapi saya tahu bahwa kurang tepat ketika saya harus "memborong" semuanya. Terlebih, sentimental teman-teman yang tidak suka terhadap saya membuat saya sangat muak dan enggan u