Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Kenangan yang Terindah

Gambar
Saat kita kuliah, kita sering foto bersama, celoteh bareng-bareng, dan melakukan hal-hal tertentu secara bersandingan bahu. Entah sampai kapan kita akan seperti ini terus, namun yakin, tak kan lama. Istilahnya, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kita, hanya empat tahun saja seperti ini—semoga, dan kita harus mengabdikan diri, terjun ke masyarakat. Profesi sebagai guru, itulah pastinya, namun pada kenyataannya kelak, ada yang menjadi politisi—mungkin, pejabat daerah, pelopor kemajuan desa, atau praktisi, pegiat HAM, dan berkemungkinan besar ada yang menjadi ustadz, seorang 'alim dalam agama. Saat ini, foto-foto yang ada mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tak berkenang, bahkan mungkin tak ada guna. Namun ingat, 20 sampai 30 tahun yang akan datang, foto-foto ini akan menjadi album kenangan paling indah, paling dicari, dan memiliki nilai historis tinggi. Alasannya, masa ini adalah masa di mana kita muda, berkarier, dan mendedikasikan diri untuk kemajuan peradaban melalui pengabdi

SMUP (9): Perayaan

Gambar
Sumber gambar dari sini . APA YANG AKAN dilakukan bila teman kita berulang tahun? Atau dia berprestasi? Atau dia mendapatkan kegembiraan yang luar biasa?Jawaban kita pasti seragam: merayakannya! Merayakan ulang tahunnya, dan kita harus gembira, menghiburnya dan memberikan yang terbaik. Dalam bentuk apa saja, yang tentunya masih dalam batas teritorial kenormalan yang diakui. Sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Juga ketika teman kita juara. Pastinya kita ucapkan selamat dan merayakannya secara sederhana. Bahkan perayaan kadang luput, tapi sesungguhnya amat penting untuk kita merayakannya guna semangat bagi siapapun, inspiratif. Pun teman kita mendapat kegembiraan, merayakannya adalah jalan terbaik. Misalnya mendapat pacar baru atau hal lain, mendapat hadiah di suatu program tertentu, dan atau diterima kerja di perusahaan favorit. Kita mengucapkan kepadanya selamat dan merayakan kegembiraannya, dengan apapun yang positif. Bentuk perayaan sendiri, seyogyanya meriah, penuh riasan

Seandainya Bersabar Sedikit

Pukul 23:00 WIB, saya mendapati hape yang tergeletak di meja tamu itu sudah berisi satu pesan belum dibaca. Saya buka dan isinya, "Ang, aku mohon bantuan, boleh gak ya?" Sejenak saya perhatikan pengirim sort message ini. Ternyata dia adalah teman SMA saya. Namanya, saya tidak mungkin menyebutkannya di sini. Saya balas, "Bantuan apa?" Selang beberapa detik, SMS dari indosat datang membrendel saya, seperti peluru laras. SMS indosat, program isi pulsa aku. Dan setelah saya cek nomor yang dielukan diisi. Ternyata benar, itu nomor teman saya yang tadi. Karena sudah larut malam, tidak ada konter yang buka, terlebih saya bukan berada di pusat keramaian. Saya hanya berada di kota, tapi pinggirannya. Pagi, saya telepon dia melalui nomor rumah. Ketika saya katakan bahwa malam tadi saya tak sempat melihat SMS dari Indosat itu, dan akan menjelaskan yang lainnya, tiba-tiba dia memutus telepon saya. Dicoba dihubungi lagi, malah direject. Padahal apa bila dia mau bersabar se

Kriteria Wanita Pendamping Hidupku

Kemarin malam (02/08), jam 03:00, mata ini belum terpejam, sedikit pun. Dan tak sendiri, ada yang menemani bibir ini untuk bersahutan. Dan dia berikan inspirasi hidup yang tak ternilai, bahkan dibandingkan dengan mutiara sekalipun. Apakah yang inspiratif itu? Katanya, kita (baca: laki-laki) harus memilih calon wanita yang akan mendampingi hidup itu, berkeluarga (baca: bakal istri), setidaknya memenuhi empat kriteria utama, di samping 4 kriteria lain yang sudah digariskan oleh Rasul kita, Muhammad saw. Yang 4 itu adalah, (a) dia (baca: si wanita) haruslah dapat memposisikan diri sebagai seorang yang dapat dituakan. Sebutlah, dia dapat menjadi "ibu" kita. Dalam pengertian, bahwa ketika kita salah, dia dapat mengingatkan kita, menegur kita. Tentu saja tidak hanya sebatas menegur, tetapi juga menasihati. Namun bukan menggurui. Sebagai "ibu", hendaknya juga ia mengurusi "anak"nya, memanjakan "anak"nya, dan ketika sang "anak" nakal, dia mamp

Buber BEM-J PBSI

Gambar
Selasa sore (31/08), tepat di depan lift dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ada sejumlah 47 orang, berkumpul, membentuk lingkaran kecil yang kelihatannya sedang melangsungkan suatu kegiatan. Mereka kelihatan khusuk, utamanya ketika salah seorang yang berada di depan mereka berbicara. Penasaran siapa mereka? Untuk menjawab kepenasaran itu, sebaiknya baca informasi yang--mungkin--ada kaitannya dengan statemen di atas. Sebagai bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (BEM-J PBSI), kami merasa perlu untuk saling mengenal lebih dekat antarsesama pengurus, terlebih, setelah paripurna, belum ada lagi pertemuan. Adanya bulan Ramadhan, menjadi angin segar untuk kami dapat melakukan temu antaranggota BEM-J. Maka, tercetuslah ide untuk buka bersama (buber). Inisiatif ini tentu bukan tanpa alasan, bahwa antarmuslim, kita wajib mempererat tali silaturahim. Di samping itu, kami,

Dari 2 Estimasi, Hanya Satu yang Berhasil

Malam (31/08) tadi, sekitar jam 23:00, menjadi kelam yang buram. Tahu sebabnya apa? Warnet! Ya, warung internet inilah yang membuat berang dan emosi memuncak sampai di ubun-ubun. Sepele, tapi nyesek! Dari 2 estimasi yang sudah direncanakan, hanya satu yang berhasil dientri. Begini ceritanya. Tadi malam, saya sudah memperkirakan bahwa malam ini harus 2 tulisan yang terbit. Taunya, setelah yang satu berhasil, yang satu lagi--padahal lamannya sudah banyak--tidak berhasil terbit disebabkan oleh komputer yang ada di warnet itu m a t i mendadak, alias ngejepret. Benar-benar! Namun demikian, saya bersyukur, karena dari 2 itu tidak semuanya gagal. Dan di sini, saya dapat mengambil ibrah, bahwa rencana yang matang belum tentu berhasil terealisasi tanpa adanya "dukungan" dari yang Mahakuasa. Saya ingat, tulisan yang pernah saya jadikan moto di laman utama buku tulis saya waktu Aliyah. Manusia hanya dapat berencana, Tuhanlah yang menentukan! Dari situ, saya mulai tenang pikiran--pada

Cinta dan Elaborasi Rasa

Gambar
Apa jadinya bila seseorang dilanda cinta? Jawabannya sudah pasti berjibun di otak masing-masing, ya, itulah, semua rasa terulang, semua rasa mengulang: rindu, ingin mendengar suaranya, kangen, ingin natap terus, sayang, ingin smsan terus, ingin semuanya. Ah, semua! Karena cinta begitu indah. Dan ekspresi cinta, amat beragam. Dua jemari berbeda membentuk sesuatu yang eksotik. Lihatlah! Itu bagian dari ekspresi cinta. Kalau ditanya, apa itu cinta? Jawabanmu? Hem, pasti beda. Definisinya juga kurang jelas, karena dia adalah manifestasi rasa. Jadi, susah untuk diuraikan, walau sebenarnya dia memiliki diferensiasi dengan cemburu, dengan selingkuh. Salam, 01 September 2010