Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2009

harapan

Manusia lahir > kanak-kanak > remaja > dewasa > tua > dan mati, begitulah siklus kehidupan ini dan tidak akan pernah berubah, abadi. Hal yang perlu digarisbawahi dari semua itu bahwa manusia akan mengarungi pengalaman yang amat banyak lagi rumit untuk bisa mencapai kematangan berpikir dan 'kematangan mengambil keputusan', atau yang di sebut dewasa. Ketika manusia dalam masa transisi ke dewasa, kadang menghadapi masalah-masalah atau krisis internal; gejolak batin, dan labil atau 'galau dalam mengambil keputusan' atau yang sejenisnya. 'Salah' mengambil keputusan berarti risiko negatif harus dihadapi, tapi 'benar' pun akan tetap ada risiko, kecil maupun besar. karena pada dasarnya hidup tak terlepas dari pilihan dan risiko-risiko. di sini, sebuah 'harapan' bisa menjadi alternatif positif untuk menjembatani antara 'salah' dan 'benar' itu. ketika yang 'salah' itu kita pilih, tentu risiko akan datang menghampiri,

First Making Love of Etaqi

First Making Love of Etaqi Angin berbisik kapada dedaunan, dan mereka pun menari-nari tanpa lelah, upah dan patah. Dedaunan yang tua kalah, mereka harus menanggung risiko tersingkirkan dari domisilinya karena rapuh. Dan tak ada yang dapat mengubah itu, siapapun, dari manusia. Dedaunan itu memenuhi halaman kosanku, sungguh hal yang menjengkelkan. Karena pagi yang cerah terkontaminasi dengan serakan dedaunan yang, menurutku, tak seharusnya. Bahkan mawar merah yang sedang merekah pun terlihat jelek tatkala dedaunan itu memenuhi pot dan sekitarnya. Kuambil ijuk, dan kusapu bersih halaman kosanku. Rasanya lega ketika kulihat halaman ini terbebas dari sampah. Saat pagi, halamanku tak sekotor seperti biasanya, mungkin, pikirku, dedaunan tua itu sudah habis. Tetapi, hal yang tak kuinginkan terjadi. Etaqi, seorang lelaki tampan yang beberapa hari ini lalulalang dipikiranku, termangu, sangat menyedihkan sekali aku melihatnya. Dia lusuh, wajahnya tak lagi membinarkan keceriaan. Matanya jontor, ba